Sufi Funky

Masa remaja merupakan usia yang sarat dengan konfilk, baik secara internal maupun eksternal. Pada masa pencarian identitas diri itu bersamaan dengan karakter psikologis yang penuh gejolak memerlukan pendekatan inter-personal yang tepat. Lebih-lebih di era globalisasi seperti sekarang ini, seluruh sajian budaya yang ada di belahan dunia manapun sangat mudah diakses melalui media komunikasi moderen, seperti: televisi, radio, internet, telepon, SMS, majalah, koran, buku, komik dan lain sebagainya, sehingga sangat mudah mempengaruhi tingkah laku remaja dan generasi muda. Bagaimana cara membendung agar mereka tidak semakin terperosok? Yaitu perlunya arahan dan bimbingan yang bersifat konstruktif-familiar (membangun secara kekeluargaan) dan tidak dengan otoritatif-dogmatis (memaksa dan kaku), sehingga dapat lebih diterima oleh remaja dan generasi muda dengan alur logis yang tepat.
Di satu sisi, kedua orang tua sebagai pihak yang memiliki tanggung jawab langsung terhadap perkembangan remaja, saat ini, lebih banyak dipandang bukan sebagai teman yang cocok dalam berkomunikasi, karena perbedaan dua generasi yang saling bertentangan. Bahkan ironisnya, kecenderungan remaja sekarang banyak menganggap orang tua lebih menjadi penghalang obsesinya yang unik dan menantang. Karenanya, remaja lebih suka mencari figur atau referensi perilaku di luar rumah yang dianggap sesuai dengan karakternya melalui media komunikasi yang ditemukan, seperti bintang film, bintang sinetron, bintang iklan, penyanyi, pemain bola, model dan lain-lain, baik lokal maupun internasional yang sering menabrak norma-norma kemasyarakatan dan keagamaan di lingkungannya.
Namun, di sisi lain, sulitnya ditemukan tauladan dalam lingkup sosial yang bisa dijadikan rujukan untuk kehidupan remaja masa depan. Guru, orang tua, tokoh masyarakat, tokoh politik, tokoh seni, pejabat pemerintah, bahkan sampai tokoh agama sekalipun banyak yang sudah tercemar oleh “bau busuk” modernitas. Setting sosial dan realitas kehidupan yang ada sudah menggambarkan suatu fenomena yang sulit diharapkan untuk perbaikan para remaja. Bahkan media-media komunikasi cenderung mengarahkan kepada rusaknya karakter remaja yang baik (saleh). Buku, majalah, koran, tabloid Islami yang disajikan di pasaran memang sudah banyak ditemukan, tapi jika diperuntukkan untuk membendung arus budaya yang merusak moralitas remaja masih belum memadai dalam sebuah pertarungan besar yang disebut dengan globalisasi teknologi komunikasi.
Oleh itulah kehadiran risalah sederhana ini sangat penting kehadirannya dalam rangka ikut serta menyumbangkan pikiran yang terkait dengan kehidupan remaja dan generasi penerus lainnya. Buku yang saya tulis ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari buku saya berjudul FIKIH GAUL yang, alhamdulillah, mendapat respon yang cukup positif dari pembaca. Maka dari itu, saya berharap buku ini dapat memberikan wacana baru yang menyegarkan bagi pengetahuan dan kesadaran logis remaja dalam mengarungi hiruk pikuknya globalisasi budaya yang mengancam moralitas agama yang suci.




