Wednesday, October 04, 2006

Sufi Funky


Masa remaja merupakan usia yang sarat dengan konfilk, baik secara internal maupun eksternal. Pada masa pencarian identitas diri itu bersamaan dengan karakter psikologis yang penuh gejolak memerlukan pendekatan inter-personal yang tepat. Lebih-lebih di era globalisasi seperti sekarang ini, seluruh sajian budaya yang ada di belahan dunia manapun sangat mudah diakses melalui media komunikasi moderen, seperti: televisi, radio, internet, telepon, SMS, majalah, koran, buku, komik dan lain sebagainya, sehingga sangat mudah mempengaruhi tingkah laku remaja dan generasi muda. Bagaimana cara membendung agar mereka tidak semakin terperosok? Yaitu perlunya arahan dan bimbingan yang bersifat konstruktif-familiar (membangun secara kekeluargaan) dan tidak dengan otoritatif-dogmatis (memaksa dan kaku), sehingga dapat lebih diterima oleh remaja dan generasi muda dengan alur logis yang tepat.
Di satu sisi, kedua orang tua sebagai pihak yang memiliki tanggung jawab langsung terhadap perkembangan remaja, saat ini, lebih banyak dipandang bukan sebagai teman yang cocok dalam berkomunikasi, karena perbedaan dua generasi yang saling bertentangan. Bahkan ironisnya, kecenderungan remaja sekarang banyak menganggap orang tua lebih menjadi penghalang obsesinya yang unik dan menantang. Karenanya, remaja lebih suka mencari figur atau referensi perilaku di luar rumah yang dianggap sesuai dengan karakternya melalui media komunikasi yang ditemukan, seperti bintang film, bintang sinetron, bintang iklan, penyanyi, pemain bola, model dan lain-lain, baik lokal maupun internasional yang sering menabrak norma-norma kemasyarakatan dan keagamaan di lingkungannya.
Namun, di sisi lain, sulitnya ditemukan tauladan dalam lingkup sosial yang bisa dijadikan rujukan untuk kehidupan remaja masa depan. Guru, orang tua, tokoh masyarakat, tokoh politik, tokoh seni, pejabat pemerintah, bahkan sampai tokoh agama sekalipun banyak yang sudah tercemar oleh “bau busuk” modernitas. Setting sosial dan realitas kehidupan yang ada sudah menggambarkan suatu fenomena yang sulit diharapkan untuk perbaikan para remaja. Bahkan media-media komunikasi cenderung mengarahkan kepada rusaknya karakter remaja yang baik (saleh). Buku, majalah, koran, tabloid Islami yang disajikan di pasaran memang sudah banyak ditemukan, tapi jika diperuntukkan untuk membendung arus budaya yang merusak moralitas remaja masih belum memadai dalam sebuah pertarungan besar yang disebut dengan globalisasi teknologi komunikasi.
Oleh itulah kehadiran risalah sederhana ini sangat penting kehadirannya dalam rangka ikut serta menyumbangkan pikiran yang terkait dengan kehidupan remaja dan generasi penerus lainnya. Buku yang saya tulis ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari buku saya berjudul FIKIH GAUL yang, alhamdulillah, mendapat respon yang cukup positif dari pembaca. Maka dari itu, saya berharap buku ini dapat memberikan wacana baru yang menyegarkan bagi pengetahuan dan kesadaran logis remaja dalam mengarungi hiruk pikuknya globalisasi budaya yang mengancam moralitas agama yang suci.

Fikih Gaul


Sejak masih kuliah sampai bekerja pada tahun 1998, aku sebenarnya nggak tertarik dengan dunia remaja. Tertarik dalam arti ingin mengamati lebih dalam tentang kehidupan remaja. Aku dulu berpikir begini, bahwa dunia remaja merupakan dunia yang bisa membuat kepala orang cepat pening. Bagaimana tidak ? Tiap hari, ada-ada saja tingkah polah aneh yang mereka lakukan. Yang rambutnya dicat warna-warni, hidung ditindik, celana robek-robek, baju ketat, pacaran, suka bolos sekolah, Narkoba, tawuran antar pelajar yang terjadi hampir setiap akhir pekan dan lain-lain. Jangankan aku yang seorang manusia biasa-biasa saja, pemerhati sosial, para guru, tokoh agama, pejabat pemerintah dan tokoh masyarakat pun dibuatnya pusing tujuh keliling. Bahkan aku pernah berkata dalam hati begini : Ah persetan dengan dunia remaja, yang penting ngga gangguin aku ! Mau tawuran, mau Narkobaan, mau gaya kaya apa kek, pokoke masa bodo. Lu elu, gue gue, nafsi-nafsi alias masing-masing urusan.
Namun, setelah aku bekerja di sebuah lembaga yang lebih banyak menangani masalah-masalah keremajaan, seperti bimbingan belajar, pelatihan mentoring, konseling problematika remaja dan sebagainya, aku merasa mendapat dorongan yang cukup kuat bahwa persoalan remaja harus ditangani secara serius oleh seluruh potensi masyarakat. Bahkan aku pernah berkesimpulan begini : kalau ada orang yang mampu berbuat sesuatu untuk memperbaiki remaja, walaupun sedikit, tapi dia sama sekali tidak peduli, maka dia kelak haram masuk sorga! Kenapa ? Kalau sampai kenyataan itu terus dibiarkan, dalam jangka waktu kurang dari dua puluh tahun, bangsa dan agama kita akan lenyap oleh ganasnya dampak negatif budaya moderen yang menyesatkan.
Sebagai langkah awal kesadaran batin, aku mencoba mendalami setahap demi tahap persoalan-persoalan yang sedang dialami remaja sekarang. Mulai dari apa, mengapa, darimana, bagaimana dan kenapa itu semua bisa terjadi. Dan akhirnya aku pun menangis dalam hati sambil meneteskan air mata bahwa kondisi remaja kita sedang di ambang kehancuran. Tarikan budaya asing yang sangat permisif, nyaris nggak pake aturan ketimuran seperti yang dipertontonkan oleh tayangan-tayangan media telekomonikasi kita. Televisi sudah dijadikan “imam” yang selalu diikuti kemana arahnya. Kalau dulu remaja setiap lepas maghrib memegang al-Quran untuk dibaca, sekarang mereka memegang remot kontrol televisi untuk menyaksikan tayangan-tayangan yang menipu. Ketika dulu remaja masih sangat hormat dengan guru, sekarang sudah menganggap guru hanya sebagai pelengkap dalam kelas. Ketika dulu orang tua masih bisa dijadikan panutan dalam keluarga, sekarang hanya TV yang dianggap pantas menggantikannya. Terus siapa dong yang harus bertangung jawab ?
Mulai dari kesadaran kecil inilah aku mulai “melatih” kebiasaanku yang suka menulis artikel-artikel popular dan serius, memberanikan diri merubah karakter tulisan agar layak untuk konsumsi remaja. Dan alhamdulillah haslnya seperti yang ada di tangan pembaca. Tentang isinya bagaimana? Ya, kalau buku-buku remaja yang dijual di pasaran lebih banyak mengetengahkan perilaku remaja dalam tinjauan budaya, dalam buku ini aku menempatkan dalam tinjauan agama melalui pendekatan yang agak santai. Hal ini aku lakukan sebagai salah satu upaya kecil untuk ikut serta membendung perilaku remaja yang dari ke hari dirasakan semakin mengkhawatirkan. Dengan ciri khas pengulasan tema-tema yang banyak dialami remaja dengan gaya bahasa yang lugas dan gaul, maka diharapkan pesan buku ini bisa diserap dengan baik.

Khadijah Sosok Perempuan Karier Sukses


Agaknya sudah cukup banyak buku yang mengupas tentang sejarah perjalanan hidup Khadijah bint Al Khuwailid, sang istri Rasulullah saw . Namun buku-buku tsb pada ummnya hanya memotret sisi perjuangan beliau sebagai istri Rasul, ibu dari anak-anaknya, dan sosok beliau sebagai seorang daiyah yang mendukung karier dakwah suaminya.
Buku ini mencoba memotret sisi lain dari kehidupan ibunda Khadijah yang tak kalah pentingnya, yaitu sepak terjang serta keberhasilan beliau dalam bidang ekonomi. Seperti kita ketahui beliau adalah sosok wirausahawati muslim yang berhasil dan pautut kita teladani jejak dan perjuangannya.
Diharapkan setelah membaca buku ini, wawasan kita tentang sosok muslimah mulia ini bertambah sekaligus kita akan terinspirasi oleh kecemerlangan beliau dalam menggagas sebuah profesi yang juga tak kalah pentingnya dalam pandangan feminisme yaitu sebagai seorang enterpreneur muslimah.

Excerpts :

Salah satu hal yang menarik dari buku ini adalah adanya pertalian antara sudut pandang feminisme dengan realitas historis Khadijah yang memiliki peran signifikan dalam melakukan formulasi kehidupan sosial keagamaan yang ramah dan anti kekerasan di tengah-tengah komunitas yang begitu kuat cengkeraman patriarkinya. Sulit dibayangkan bagaimana Khadijah mampu melakukan transformasi nilai-nilai keislaman sebagai counter bagi tatanan masyarakat mapan yang tidak ada penghargaan humanistik bagi perempuan.
Dan dengan sedikitnya buku-buku yang mengupas secara khusus dan mendalam mengenai kehidupan Khadijah baik sebagai makhluk personal maupun sosial, maka hadirnya buku ini akan menjadi salah satu rujukan penting dan menjadi bagian dari maraknya karya-karya historiografi yang ada.
(DR. Siti Musdah Mulia, MA, APU).

Menuju Era Wakaf Produktif


Paradigma pengelolaan wakaf secara produktif sesungguhnya sudah dicontohkan Nabi yang memerintahkan Umar ra agar mewakafkan sebidang tanahnya di Khaibar. Substansi perintah Nabi tsb adalah menekankan pentingnya eksistensi benda wakaf dan mengelolanya secara profesional. Sedangkan hasilnya dipergunakan untuk kepentingan kebajikan umum. Pemahaman yang paling mudah dicerna dari perintah Nabi saw tsb adalah bahwa substansi dari ajaran wakaf itu tidak semata-mata terletak pada keabadian bendanya, tapi sejauh mana benda tsb memberikan manfaat kepada sasaran wakaf. Dan nilai manfaat benda wakaf akan bisa diperoleh secara optimal jika dikelola secara produktif.

Jika kita konsisten memegangi hadits Nabi di atas, maka seharusnya tidak ada benda-benda wakaf yang terbengkalai, apalagi membebani nazhirnya. Bahwa ada sebagian ulama yang bersiteguh memahami wakaf lebih kepada keutuhan bendanya, meskipun telah rusak atau tidak memberi manfaat sekalipun, itu urusan lain. Namun, prinsip dasar dari wakaf itu sendiri sesungguhnya telah diajarkan oleh Nabi saw sebagaimana di atas.

Oleh karena itu, pemberdayaan wakaf secara produktif harus dijadikan gerakan bersama dalam rangka membangun sektor ekonomi umat yang berkeadilan. Apalagi di tengah upaya kita keluar dari krisis ekonomi yang telah lama membelit bangsa ini. Intinya, tidak ada istilah terlambat bagi kita untuk menata kembali pengelolaan wakaf agar lebih memberikan kesejahteraan sosial, baik di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, sarana-prasarana ibadah dan lain sebagainya.

Buku ini merupakan bacaan yang cukup progresif karena menawarkan ide-ide konkrit dan cerdas dalam rangka pemberdayaan wakaf secara produktif.

Bahaya Makanan Haram


Secara substantif, setiap barang atau benda yang diharamkan oleh Allah pada dasarnya mempunyai kandungan hikmah dan manfaat. Namun, manusia tidak selalu mampu menelusuri kandungan hikmah dan manfaat apa yang menjadi ketentuan Allah, karena keterbatasan daya jangkau akalnya.
Contoh yang paling riil di depan mata kita adalah dampak buruk yang diakibatkan oleh khamar (minuman yang memabukkan). Orang yang sedang dalam keadaan mabuk sudah pasti kehilangan keseimbangan emosi dan pikiran, dan sangat mungkin melakukan celah kemaksiatan yang dibenci oleh Allah. Demikian juga babi, orang yang makan babi cenderung rasa cemburunya relatif rendah seperti sifat babi itu sendiri. Orang yang terbiasa makan daging babi, tidak mudah untuk cemburu ketika pasangan hidupnya (suami atau isteri) berselingkuh dengan orang lain. Sedangkan orang yang menghindari makan daging babi, ia cenderung rasa cemburunya sangat tinggi. Bahkan pembuktian ilmiah mengatakan, bahwa intelegensia orang yang memakan daging babi lebih rendah dibandingkan dengan orang yang tidak mengkonsumsinya.
Akan tetapi yang harus diingat adalah bahwa keharaman khamar atau babi itu tidak selalu dapat kita temukan hikmah yang bersifat dhahir (nampak)nya saja. Dulu banyak orang berfikir bahwa haramnya khamar itu disamping memabukkan juga bisa merusak kesehatan manusia. Namun alasan kesehatan akan kehilangan relevansinya kalau khamar diminum oleh orang atau masyarakat di daerah yang mempunyai cuaca yang sangat dingin seperti di daerah Eskimo sebagai penghangat tubuh, misalnya. Hal yang sama berlaku terhadap daging babi. Kalau dahulu orang mencari sebab-sebab keharaman babi lebih karena mengandung cacing pita yang bisa mengganggu kesehatan. Tetapi dengan perkembangan teknologi mutakhir, ternyata cacing pita bisa dihilangkan dengan metode tertentu. Lalu apakah keharamannya akan menjadi hilang ? Tentu saja tidak demikian adanya.
Demikian juga dampak buruk yang diakibatkan oleh barang atau benda haram secara ghairu dzatiyah (di luar substansinya) karena diperoleh dengan cara yang tidak halal. Dalam doktrin Islam, bahwa keharaman dan kehalalan sesuatu secara substansi dan di luar subatansinya itu merupakan otoritas mutlak yang dipunyai oleh Allah SWT. Salah satu kaidah fikih menyebutkan sebuah ketentuan : “Laa yus’al ‘ammaa yaf’al”, artinya : janganlah kamu tanyakan apa yang ditetapkan oleh Allah. Jadi, apa yang telah diharamkan oleh Allah, maka kita harus menerimanya sebagaimana pula berlaku sebaliknya. Kekuatan iman seseorang menjadi penentu kepatuhan terhadap ajaran Allah yang disyariatkan di muka bumi ini. Ketika Allah mengharamkan sesuatu, maka bagi orang beriman pantang untuk mengeluarkan tanda tanya : memangnya kenapa diharamkan ?
Untuk itulah Islam sangat keras memberikan peringatan kepada mereka yang tidak mempedulikan proses mendapatkan hartanya. Jika seseorang telah menjadi budak harta dan dengan segala cara untuk memperolehnya, maka segala kemaksiatan akan dilakukan. Karena mengkonsumsi barang haram (baik dzat maupun cara memperolehnya), akan mempunyai kecenderungan untuk selalu melakukan dosa yang semakin jauh dari tuntunan Ilahi. Akibatnya, ia semakin terbenam dalam kebiasaan-kebiasaan yang dibimbing oleh hawa nafsu. Dalam al-Quran disebutkan : “Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya”. (QS : 80 : 24). Dan makanan yang dikonsumsi niscaya menimbulkan konsekuensi, sesuai dengan maksud sabda Nabi SAW : “Setiap daging tumbuh yang diperoleh dari kejahatan, maka neraka lebih layak baginya”. (HR. Imam Ahmad).
Maka patut diduga dan dikhawatirkan, makanan yang haram akan mendorong pada perilaku-perilaku yang diharamkan pula menurut ketentuan agama Islam selaras dengan sinyalemen Nabi SAW dalam haditsnya yang telah disebutkan di atas, karena syetan telah merasuk ke dalam diri dan jiwanya, mempengaruhi gerak langkah yang dilakukan. Selanjunya, dampak itu terus menetes dan mewaris pada keturunan, sehingga anak-anak dan cucunya pun berkecenderungan pada perilaku yang diharamkan pula.
Agar kita tidak termasuk dalam kategori manusia yang diancam akan masuk neraka karena kita tidak peduli terhadap apa-apa yang kita makan, maka kita hendaknya merenungkan ulang terhadap sabda Nabi yang berbunyi : Man la yubali min aina iktasaba al-mal lam yubali aina adkhalahu an-naar (barang siapa tidak mempedulikan dari mana ia mengusahakan harta, maka Allah tidak mempedulikan dari mana Dia memasukkannya ke neraka (HR. Abu Manshur ad-Dailami).
Kalau kita sudah mengerti akibatnya, kenapa juga kita tidak segera menyadarinya ? Wallahu a’lam bish-shawab<

Fikih Progresif


Isu ditutupnya pintu ijtihad memang sudah lama bergaung bersamaan dengan runtuhnya kepercayaan diri umat Islam akibat pertikaian politik internal, kecenderungan hidup yang hedonistik, dan kolonialisme Barat yang meluluhlantakkan peradaban Islam. Situasi itu kemudian memicu maraknya semangat gerakan ‘penyucian batin’ melalui penetrasi faham-faham sufisme. Sehingga ajaran-ajaran sufi pada masa itu mendorong sebagian umat Islam menjadi statis dan kontra produktif dalam bidang pemikiran hukum Islam dengan mengikuti pola bermazhab yang kaku. Akibatnya, umat Islam terbelenggu oleh ketatnya faham mazhabisme dan kuatnya keyakinan terhadap beratnya persyaratan ijtihad yang digaungkan oleh sebagian ulama.

Jika hukum Islam (fikih) hanya diletakkan pada sudut pandang dimana para ulama terdahulu berpendapat, seperti tulisan-tulisan yang ada dalam kitab-kitab kuning, bukan tidak mungkin Islam akan ditingggalkan oleh proses perubahan yang begitu cepat. Untuk itu, perlu adanya sebuah upaya penggalian pendekatan-pendekatan metodologis sebagai pisau analisa pengembangan paradigma hukum fikih yang yang ‘dialogis’ dan ‘hidup’ terhadap perkembangan zaman.

Beberapa tokoh pemikir hukum Islam memang sudah memulai mengembangkan pola-pola pendekatan yang sangat maju, namun kebanyakan umat Islam nampaknya masih ragu-ragu menerimanya. Tokoh pemikir hukum Islam tersebut seperti Umar bin Khattab radengan teori pendekatan kontekstualnya yang mengacu kepada konsep maslahat dan jiwa syariat, Imam As-Satibi dengan teori Maqashid Asy Syari’ahnya, Abdullah Ahmed an-Naim dengan teori periodisasi Makkiyah-Madaniyahnya, dan lain-lain.

Karenanya kehadiran buku ini bermaksud mengajak para pembaca untuk membudayakan dialog-dialog cerdas dengan memaparkan berbagai pendekatan integratif yang pernah digulirkan oleh beberapa tokoh pemikir hukum Islam tersebut. Dari berbagai pendekatan metodologis itu kemudian memunculkan apa yang disebut sebbagai konsep ‘Fikih Progresif’. Yaitu sebuah konsep fikih yang berorientasi pada pola penyelesaian masalah melalui pendekatan metode ijtihad yang utuh dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik menuju faham fikih yang modern, cerdas, adil, dan dinamis.

Tuesday, October 03, 2006

Selamat Datang

Selamat Datang... Welcome... Willkommen Sie Bitte... Bienvenue... Ahlan wa Sahlan...

About me

  • I'm Thobieb Al Asyhar
  • From Cinere Depok, Jawa Barat, Indonesia
My profile

What Time Is It Now?

Prayer Time

Visitors Stats

Wanna Say Somethin'?

Archives

Under Management of